Follow us on Facebook

Kegiatan Rihlah Ilmiah SMAIT dan MAIT kelas XI Al- Kahfi di Kab.Garut






Kegiatan Rihlah ilmiah SMAIT Al-Kahfi




Bogor- dari tanggal 4 Sampai 6 September 2019 SMAIT Al- Kahfi mengadakan rihlah ilmiah untuk seluruh santriwan kelas sebelas ikhwan IPS dan MA IT Al-kahfi, rihlah ilmiah sendiri merupakan program tahunan yang dilaksanakan oleh SMAIT Al- Kahfi yang bertujuan untuk mengedukasikan kepada para santri budaya budaya, serta kearifan lokal dari tempat tempat yang dikunjungi saat kegiatan rihlah ilmiah tersebut berlangsung, di tahun 2019 ini pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan rihlah ilmiah di daerah Kab.Garut dan Kab.Tasikmalaya, Jawa Barat, seperti mengunjungi Candi Cangkuang, Kampung Naga, Pabrik Dodol di Garut, serta sentra kerjinan kulit sukarengang,Garut, ingin tau kelanjutannya?, simak laporan berikut ini.






Candi Cangkuang, Kab.Garut




Agenda kami diawali di hari Rabu, 4 September, 2019, kami santriwan kelas sebelas ikhwan IPS dan MA IT Al-kahfi sudah bersiap untuk memulai perjalanan dari pukul 3 dini hari, dikarenakan perjalanan menuju kabupaten Garut melewati jalan yang terkenal dengan kemacetannya seperti tol Jakarta-Cikampek, serta derah Cileunyi dan Rancaekek dimana di daerah iu banyak pabrik yang membuat daerah sekitarnya padat pada jam sibuk, Alhamdulillahnya rombongan kami sudah tiba di penghujung tol Jakarta-cikampek pada pukul 5 pagi, berkat dari memutuskan berangkat lebih pagi, disana kami melaksanakan sholat subuh bersama, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Bandung, dan kami berhasil meleawati daerah Rancaekek lebih pagi, sehingga sudah tidak terlalu padat, kamipun melanjutkan perjalanan ke kabupaten Tasikmalaya, yang pada akhirnya kami tiba sekitar pukul 11 untuk makan siang terlebih dahulu di daerah Tasikmalaya, agenda pertama kami sendiri mengunjungi Kampung Naga yang berlokasi di kabupaten Tasikmalaya, sehabis makan kami langsung menuju kesana dan tak lama Bus kami sampai di titik parkir taman wisata Kampung Naga, Tasikmalaya.

Untuk sampai di Kampung Naga kami harus turun ke lembah dengan menggunakan tangga yang sebanyak 439. Di Kampung Naga kami mendapat wejangan dari Pak Kuncen selaku ketua adat di Kampung Naga. Setelah mendapat wejangan dari Pak Kuncen, kami bekeliling kampung ditemani pemandu wisata yang berasal dari sana. selesai berkeliling kami kembali ke balai kampung untuk diajari cara membuat tempat snack dari anyaman yang diajari oleh ibu-ibu setempat. Saat sore menjelang kami menyudahkan kegiatan kami di Kampung Naga untuk selanjutnya pergi ke penginapan.

Di penginapan, setelah sholat kami mempresentasikan hasil yang kami dapat di Kampung Naga dari aspek geografi, dan sosiologi. Selesai mempresentasikan hasil laporan kami, kami diberikan waktu untuk keluar dari penginapan hingga jam 10. Tepat jam 10 kami beristirahat untuk menyiapkan energi untuk esok hari.

keesokan harinya kami melanjutkan kegiatan rihlah ke pabrik Dodol Picnic. Di pabrik Dodol Picnic kami diajak untuk melihat-lihat proses pembuatan dodol untuk kemudian diarahkan ke ruang rapat. Di ruang rapat kami mendapatkan sebungkus Dodol Picnic dan juga mendengarkan penjelasan mengenai seputar hal tentang Dodol Picnic. Selain mendengarkan, kami dengan semangat juga mengajukan banyak pertanyaan seputar Dodol Picnic. Sehabis mendengarkan dan mengajukan pertanyaan, kami pergi ke tokonya untuk membeli berbagai hasil olahan dari Dodol Picnic.

Dirintis pada 1949 ole H. Iton. Awalnya bernama Halimah, nama Dodol Picnic diambil karena awalnya terdapat sebuah TOSERBA bernama Picnic yang menjual barang-barang menengah-atas. Untuk menyasar pasar menengah-atas H. Iton berusaha agar dodol buatannya diterima di TOSERBA Picnic. Setelah menguras otak, H. Iton mendapatkan ide untuk mengganti nama produknya menjadi Dodol Picnic. Setelah mengganti nama produknya, pemilik TOSERBA Picnic membolehkan dodol puatan H. Iton untuk dijual di tokonya.

Sebelum dzuhur kami melanjutkan rihlah kami ke tempat penyamakan kulit di wilayah Sukaregang, Kecamatan Garut kota. Untuk sampai di sentra penyamakan kulit kami butuh berjalan sejauh 1 km. Di sentra penyamakan kulit, kami mendengarkan info seputar penyamakan kulit. Sehabis mendengarkan, kami di ajak berkeliling melihat proses penyamakan kulit.



Dari sentra penyamakan kulit, kami melanjutkan ke toko oleh-oleh Chocodot. Disana kami membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang walau harganya tergolong tidak murah. Kami disana tidak terlalu lama karena setelah itu kami melanjutkan kegiatan ke Taman Air Sabda Alam.

Siangnya kami meninggalkan sentra penyamakan kulit untuk pergi ke Taman Air Sabda Alam. Di Sabda Alam kami menghilangkan kejenuhan dengan bermain air sampai sore. Selesai menghilangkan kejenuhan, kami kembali ke penginapan untuk istirahat dan mempresentasikan apa yang kami dapatkan di pabrik Dodol Picnic dan sentra penyamakan kulit.
Hari terakhirnya kami mengunjungi Candi Cangkuang yang terletak di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi ini ditemukan oleh Drs. Uka Chandra pada 9 Desember 1966. awalnya hanya terdapat makam panglima Kerajaan Mataram bernama Arif Muhammad, seorang dai yang menyebarakn islam di Kampung Pulo. Arif Muhammad di utus Sultan Mataram untuk melawan VOC di batavia, tapi karena kalah Arif Muhammad tidak berani untuk pulang, maka ia menyebarkan islam di Kampung Pulo. Di kampung pulo budayanya hindu tapi agamanya islam. Hal ini terjadi karena cara unutk menyebarkan islamnya Arif Muhammad yang mengganti sedikit demi sedikit agama hindu di Kampung Pulo. Sementara Candi Cangkuang adalah candi hindu yang ditelantarkan sebelum ditemukan. buti ditelantarkannya adalah dengan batu-batu dari candi dijadikan nisan oleh warga setempat.
Sehebis sholat dzuhur kami menginggalkan Candi Cangkuang untuk kembali ke asal kami yaitu Bogor. Kami berangkat sekitar jam 2 untuk melakukan perjalan pulang yang panjang dan beristirahat beberapa kali di rest area. Akhirnya jam 10 tepat kami sampai di Pesantren Al-kahfi. Tapi kami harus jalan terlebih dahulu untuk sampai di gerbang Al kahfi karena bisnya tidak muat.


Writer: Khedive_Sefik and Dave Illnios